Jumat, 25 Desember 2015



Puisi Penyair Syiria: Nizar Qabbani (1923-1998)
Peramal (Qariul Finjan) 

Dengan mata yang cemas
dia duduk
merenungi gelas yang terbuka
kemudian berkata,
“tak usah bersedih, anakku
kau telah ditakdirkan untuk jatuh cinta.”
anakku, siapa pun yang mengorbankan dirinya
untuk kekasihnya
adalah seorang martir.

 
Telah lama kupelajari ramalan
namun tak pernah kubaca gelas seperti milikmu
telah lama aku belajar ramalan
dan tak pernah kulihat penderitaan
seperti penderitaanmu
kau telah ditakdirkan
terus berlayar dalam lautan cinta
kehidupanmu telah ditakdirkan
menjadi buku air mata
dan terus terpenjara
di antara api dan air

Namun di balik seluruh kepedihan
di balik kesedihan yang mengurung kita
siang dan malam
di balik angin
udara yang basah
dan hembusan siklon
ada cinta, anakku
yang akan tetap
menjadi hal terbaik
dari sebuah takdir

Akan ada seorang perempuan
dalam hidupmu, anakku
maha besar tuhan!
matanya sungguh indah
mulut dan desah tawanya
dipenuhi bebungaan dan melodi
kecintaan dan kegilaannya pada kehidupan
melingkupi dunia

Seorang perempuan yang kau cintai
adalah seluruh duniamu
namun langitmu akan tetap mendung
jalanmu tertutup,
tertutup, anakku

Kekasihmu, anakku
tertidur dalam istana
yang dijaga ketat
siapa pun yang mencoba
mendekati dinding-dinding tamannya
atau memasuki ruangannya
dan menawarkan diri padanya
atau mengurai sanggulnya
hanya akan membuatnya musnah
hilang, anakku

Kau akan mencarinya ke manapun, anakku
kau akan bertanya pada gelombang laut
kau akan bertanya pada pantai
kau akan mengarungi samudra
dan air matamu mengalir seperti sungai
dan di akhir kehidupanmu
kau akan mengetahui bahwa
kekasihmu tak memiliki tanah,
tempat tinggal, ataupun alamat

Saat itu kau tersadar
kau telah mengejar
jejak-jejak kabut

Akan sulit, anakku
mencintai perempuan
yang tak memiliki tanah
ataupun tempat tinggal

Sabtu, 21 Maret 2015




Dua Ratus Empat Puluh Menit







Detik berjalan begitu cepat di dua ratus empat puluh menit yang mendebarkan pagi itu.
Sinar lampu yang temaram membias di tengah udara dingin yang menggelitik.
Debar jantung berpacu dengan desah rindu yang membuncah tak tertahan.
Ah.. penantian panjang yang menyiksa akhirnya terlunaskan..

Aliran kata dan syair begitu rakus dilahap  oleh laparnya jiwa
Alunan lute dan senandung nirwana menggema di sela senyum dan tawa
Aku berada dalam gelembung dunia asing yang memabukkan
Sampai tak lagi kukenal siapa diri ini

Bagai Alice yang memasuki dunia ajaib, aku berkelana di dua ratus empat puluh menit yang mencerahkan pagi itu
Aku tak menginginkan jalan untuk kembali…
Ingin terus kutelusuri nama-nama, sonata-sonata, dan tempat-tempat yang baru kudengar namanya pagi itu
Darimu, sang pengelana tempat dan waktu

Dua ratus empat puluh menit yang menggetarkan itu pun berakhir
Meninggalkanku dalam dahaga dan lapar yang belum sirna..









Sabtu, 07 Maret 2015

Jatuh Hati (by Raisa)










ada ruang hatiku yang kau temukan
sempat aku lupakan kini kau sentuh
aku bukan jatuh cinta namun aku jatuh hati


ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
ku harap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
ku tak harus memilikimu tapi bolehkah ku selalu di dekatmu


ada ruang hatiku kini kau sentuh
aku bukan jatuh cinta namun aku jatuh hati


ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
ku harap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
ku tak harus memilikimu tapi bolehkah ku selalu di dekatmu


katanya cinta memang banyak bentuknya
yang ku tahu pasti sungguh aku jatuh hati


ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
ku harap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
ku tak harus memilikimu tapi bolehkah ku selalu di dekatmu
tapi bolehkah ku selalu di dekatmu 



https://www.youtube.com/watch?v=SopD7YTvF10 

Jumat, 06 Maret 2015

RENCANA SEMESTA




 Entah apa yang direncanakan semesta..
Tanpa tanda tanpa cerita ia pertemukan kita
Tanpa belas dan tanpa kata ia alirkan rasa
Membuat jiwa ini terlunta

Seperti air yang mengaliri tanah yang gersang
Rangkaian kata dan kisah seperti menina-bobokan..
Memberikan air susunya pada bayi yang kelaparan
Sampai terlelap ia dalam senyuman

Wahai engkau yang dikirimkan semesta
Sudah selesaikah tugasmu mengenyangkan diriku?
Mengapa masih terasa haus dan lapar?
Dan mengapa kau seperti sirna ditelan masa?

Entah apa yang direncanakan semesta
Aku tak tahu jawabannya..